U T U H

 Mari buka tulisan kali ini dengan arti dari keutuhan atau wholeness berdasarkan kamus.

Wholeness: whole-ness,
1. the state of forming a complete and harmonious whole; unity.
2. the state of being unbroken or undamaged.
     "the wholeness of the buildings is exceedingly well preserved"
      good physical or mental health.
     "our shared journey toward wholeness and healing"

Sepanjang hidup, bukankah kondisi keutuhan ini yang kita cari?

     Kondisi dimana kita merasa komplet, harmoni, utuh, damai.

Tapi sayangnya, tendensi manusia berusaha utuh dengan mengumpulkan, meraup kepingan-kepingan atribut. Kepingan masa lalu, atribut akan kebutuhan dihormati, diperhatikan, hingga dicintai. Menjadikannya keterikatan, yang dianggap dapat mengutuhkan, melengkapi, membangun apa yang jadi definisi “aku”. 

Seakan manusia adalah puzzle acak yang perlu dikontruksi, diramu ulang, terus-menerus, untuk menjadikannya “lebih” utuh. Padahal, apa yang lebih sempurna daripada keutuhan itu sendiri?

Kadang manusia lupa, kalau kita datang, dan akan pergi, tanpa membawa apa-apa. Dan terkadang kita lupa, bahwa kita telah lahir dengan kondisi utuh, murni. Keutuhan diri sudah tercipta sejak kita menghirup nitrogen bercampur oksigen dan gas-gas lainnya. Keutuhan diri sudah tercipta bahkan sebelum kita mampu menginjak bumi dengan tegak sendiri. 

Saat-saat kita mampu memandang dunia apa adanya.

Dengan sejalannya waktu, seiring pertumbuhan, kita mengenal atribut. Atribut ada, mengenalkan diri, sebagai apa adanya. Atribut ada sebagai mesin, perangkat, kendaraan, yang bertujuan untuk mengantarkan kita ke suatu titik tuju. Pangan ada sebagai bensin perangkat fisik kita untuk hidup. Ilmu ada sebagai anak tangga untuk menapaki pemahaman yang lebih tinggi, untuk menciptakan tatanan yang lebih harmoni.

Tapi, kemudahan, kepuasan yang dibawa oleh atribut tersebut kadang membuat manusia terlena, rakus, bahkan buta. Mempertaruhkan jiwa, raga, berlomba, untuk mengumpulkan, menimbun atribut tersebut. Tanpa memahami benar esensi dasar dan nyatanya. Padahal, kalau sudah menumpuk, lalu, apa? 

Menumpuk pangan? Bisa jadi basi. Menumpuk uang? Ketenaran? Ga perlu disebutkan berapa banyak orang yang tidak menemukan kepuasan dari penumpukan atribut tersebut dan memilih untuk mati. Menumpuk ilmu tanpa memahami? Cuma bakal dijadikan batu loncatan yang mengarah ke kehancuran yang lebih besar. Contoh saja korupsi, perang, efek rumah kaca, dsb.

Manusia kadang lupa. Kalau tujuan mereka adalah titik. Titik untuk utuh.

Untuk utuh, sebenarnya kita hanya perlu belajar untuk merasa cukup akan atribut dan segala pernak-perniknya. Kita perlu belajar, memilah, bahwa terdapat beberapa atribut yang semesta pinjami hanya untuk sekedar kita pelajari dan pahami. Lalu dilepaskan saat waktunya habis. 

Karena secara harfiah, bukan takdir kita untuk memiliki. Kita hanya numpang hidup di bumi. Sekelibat, sedetik, untuk meninggalkan jejak, manfaat, bagi yang kemudian akan datang. 

Bukan takdir kita memiliki. Apalagi menggenggam erat. Perlu bagi kita untuk melepas keterikatan, karena langkah akan lebih ringan tanpa menjinjing apa-apa. Melepas keterikatan, karena toh, ujungnya kita juga akan pergi tanpa apa-apa, bukan?

Untuk utuh, kita sebenarnya kita tidak perlu mencari kemana pun, tidak perlu mengumpulkan atribut tanpa makna, bahkan mengubek-ubek tatanan hidup. Untuk utuh, cukup melihat kedalam. 

Melihat dengan jujur dan apa adanya. Memperhatikan dengan berani dan lugas. Memandang dari sudut pandang penonton. Belajar hanya menyaksikan tanpa tenggelam.

Tentang memori yang membentuk ganjalan, maupun luka. Memori yang mendesak untuk disadari. Memori yang mendesak untuk dipahami. Memori yang mendesak meminta penyelesaian. 

Melepaskan, menguraikan, satu-persatu keterkaitan memori yang semrawut. 

Mengizinkan diri untuk menangis dan merasa.

Mengizinkan diri untuk melepas, memaafkan, mengikhlaskan.

Memberi ruang untuk bernafas dari perihnya luka.

Memberi waktu untuk tertutupnya luka.

Karena keutuhan itu selalu berada disana. 

                                           ——————————

Comments