Perspektif dan Bertumbuh
Baik, buruk.
Semuanya balik lg ke perspektif.
Seperti konsep yin-yang.
Ada makna dibalik hitam.
Ada maksud dibalik putih.
Karena memang itulah dunia.
Tidak sesempurna surga,
tidak sesempurna tuhan.
Di posisi mana pun kita berada, kita cuma harus ingat.
Kalau kita cuma harus belajar dan memahami.
Paham akan makna, paham akan maksud.
Jadikan itu pelajaran yang melengkapi kita, yang menaikan nilai diri.
Serap setiap esensi penting yang mendorong kita bertumbuh, menjadi bekal untuk maju, mampu menjadikan kita manusia yang lebih baik.
Baik esensi makna, maupun maksud.
Karena semua butuh keseimbangan.
Kita cuma perlu belajar.
Karena hidup adalah proses, perjalanan.
Dan kita terjebak di proses pembelajaran seumur hidup.
Hindari keras kepala. Menolak untuk sadar. Menolak belajar. Kabur dari rasa tidak nyaman. Takut untuk bertumbuh. Mengabaikan pembelajaran. Hindari sombong. Tinggi hati. Merasa sudah paling tau. Hanya karena Ego.
Persiapkan hati yang lapang, untuk menerima dan mengikhlaskan rasa sakit.
Persiapkan telinga, mata, dan jiwa untuk menyadari.
Persiapkan wadah yang kosong, untuk belajar dan memahami.
Persiapkan keberanian untuk bergulat dengan ketidaknyamanan.
Keberanian untuk melangkah lebih jauh.
Rasa sakit pasti ada. Begitu juga dengan ketidaknyamanan. Saat menerima, memproses, mencoba melakukan hal yg baru, hal yang asing, hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan&apa yang familiar bagi kita.
Tapi, kalau terus kabur dari rasa ketidaknyamanan. Hanya berfokus, tenggelam dalam rasa sakit. Bukankah itu menjadikan rasa sakit itu sia-sia? Tidak bermakna.
Maka, jadikan rasa sakit alasan terbesar mengapa kita perlu memahami makna. Supaya kita bisa maju. Supaya kita lulus dari pembelajaran itu.
Agar kita bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan di langkah-langkah selanjutnya.
Agar kita semakin kuat, mampu, saat dihadapkan dengan situasi yang sama.
Karena, sayang, kalau kita merasa sakit berkali-kali. Terjebak di situasi yang berulang-ulang. Terjebak di lingkaran setan. Hanya karena, kita tidak bersedia untuk sadar dan memahami makna. Hanya karena, kita tidak berani mengambil langkah.
(oot dikit, but, imo. Kadang, ada hubungannya jg ga sih dgn lack of self-love, self-respect? Bcs, if you do love yourself enough, you won’t let yourself getting hurted, being in pain. Apalagi disakitin hal yg sama trs menerus…Somehow, if you love yourself, you’ll refuse getting hurted, by learn the lesson. Not only focusing on the pain. But learn the lesson (diulang biar mantep). So you able to make a better choice, wiser choice, kedepannya. Especially if you’re stuck in the similiar situation. Over and over again… Hmm.. Jatuhnya jadi semacam.. Self-sabotage ga sih? Kalo keras kepala, menolak aware, menolak belajar, menolak bertumbuh.. )
*mikir*
Somehow, mengarah jg ke teori/quote, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri.
*kembali kontemplasi, refleksi diri*
(gado-gado bgt bahasanya☺ yaudahlah ya)
Comments
Post a Comment